This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2011

PKS dan Cobaan Demokrasi

Khairurrizqo
Jakarta - Paling tidak ada 2 kejadian beruntun yang 'mengarah' langsung atau tidak langsung kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Pertama, kasus Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan (PK) –awal mula PKS- yang memperkarakan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq ke Badan Kehormatan DPR RI. Selain itu, Yusuf –yang telah dipecat sejak tahun 2009 dari PKS karena alasan indisipliner ini- juga membuka beberapa tuduhan mengenai keterlibatan Sekjen PKS Anis Matta dalam penggelapan uang serta sikap Yusuf yang menolak PKS menjadi partai terbuka. Kedua, dan ini yang menghebohkan, adalah kasus Arifinto, anggota DPR RI dari PKS yang tertangkap kamera diduga sedang menonton video porno pada saat berlangsungya sidang paripurna.

Tulisan ini mencoba melakukan analisa –berdasarkan kasus-kasus tersebut- mengenai risiko yang ditempuh sebuah gerakan ketika mereka memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaran 'politik praktis'.

Dari pengalaman di Indonesia misalnya, beberapa gerakan Islam gagal menghadapi tantangan politik. Beberapa partai Islam kalah dalam proses politik yang fair dan elegan, tetapi –dan ini yang jarang diulas- partai Islam seringkali kalah, bukan karena tidak mampu mendulang suara, tapi gagal menghindar dari fitnah lawan politik yang berujung pada 'pembredelan' partai tersebut oleh penguasa, baik langsung maupun tidak langsung. Masyumi di era Orde Lama dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di awal era Orde Baru menjadi bukti gagalnya gerakan Islam menghadapi cobaan demokrasi. Bagaimana dengan PKS?

Cobaan Demokrasi

Demokrasi adalah pasar bebas politik. Semua ide dan gagasan ditawarkan di sini, dalam berbagai bentuknya. Pembelinya adalah rakyat. Rakyat yang akan menilai gagasan apa yang layak dibeli, dan gagasan mana yang sebaiknya dibuang. Maka tugas partai adalah mengemas gagasan itu dengan bentuk terbaik, sehingga tampak menarik untuk dijual dan ada kemungkinan untuk 'laku' di pasaran politik.

Dalam tataran ideal, demokrasi yang tak ubahnya seperti pasar ini justru menjadi masalah, karena menjadi absurdnya kebenaran dalam politik. Hal ini paling tidak didasari oleh beberapa hal; pertama, kebenaran, seringkali kemudian menjadi domain partai atau koalisi partai mayoritas. Inilah kebenaran politik, yang belum tentu merupakan kebenaran hukum, dan apalagi kebenaran agama. Demokrasi, dalam istilah lainnya, kemudian menjelma menjadi peraturan tentang kemenangan 51 persen atas 49 persen, sesuatu yang oleh Alexis de Tocqueville disebut sebagai 'tirani mayoritas'.

Kedua, gagasan tentang apa itu 'kebenaran dalam politik' berbeda antara satu partai dengan partai lain. Persamaannya, adalah semua partai meyakini bahwa untuk membuktikan sejauh mana kebenaran gagasan mereka, yang harus dilakukan rakyat adalah memilih mereka untuk berkuasa di lembaga negara. Gagasan kebenaran politik dalam bentuk 'ideologi partai' ini kemudian menjadi semacam karakter yang membedakan antara satu partai, dengan partai lainnya.

Ketiga, Dengan analogi pasar bebas dan kebenaran yang absurd, maka persaingan menjadi sedemkian bebas. Dalam konteks ini, kita bisa memahami mengapa konotasi term 'politik' menjadi bernilai 'negatif'. Tak lain karena, demokrasi hampir-hampir memberi jalan bagi partai politik untuk merebut kekuasaan dengan segala cara. Toh, benar salahnya cara  yang ditempuh, akan masuk dalam perdebatan politik, bukan justifikasi hukum. Inilah cobaan demokrasi, yang segera kemudian menjadi mekanisme seleksi alamiah; yang mampu beradaptasi akan terus bertahan. Yang gagal, segera masuk kotak.

Reformasi 1998 membawa Indonesia untuk 'belajar kembali' tentang demokrasi, setelah pernah diaplikasikan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Dalam kondisi inilah, PKS muncul (sebelumnya PK) dengan menawarkan gagasan Islam sebagai landasan ideologi. Diisi dominan oleh orang-orang dengan latar belakang aktivis Islam kampus, idealisme dan ide Islam Politik kemudian menjadi 'dagangan' PKS dalam menjual gagasannya kepada rakyat.

Namun, lazimnya partai lain yang terus eksis, PKS pun tidak lepas dari cobaan demokrasi. Cobaan yang dihadapi adalah bagaimana mengejawantahkan ideologi partai dalam tindakan nyata di ruang publik. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana 'kebenaran politik versi PKS' menjadi 'kebenaran politik' yang diyakini juga oleh masyarakat. Hal ini nampaknya menghadapi beberapa kendala tertentu;

Pertama, adalah upaya PKS untuk memperluas basis pemilih (kader dan simpatisan). Selama ini PKS dianggap masih berada di 'kanan' dengan basis agama yang kuat, dan belum mampu bergeser ke 'tengah' untuk menggaet masa Nasionalis. Pilihan strategi yang diambil pun tidak main-main; menjadi partai terbuka. Pilihan cerdas sekaligus kontroversial; di satu sisi PKS harus mampu mengemas gagasan ideologi mereka sedemikian rupa untuk meraih simpati massa kelompok nasionalis, di sisi lain PKS juga harus menjelaskan pilihan untuk 'terbuka' ini pada kader dan simpatisan mereka yang kebanyakan adalah kelompok Islam loyalis. Pada titik inilah soliditas PKS sebagai partai kader diuji.

Kedua, adalah cobaan demokrasi bernama kekuasaan. Dalam hitung-hitungan koalisi, praktis PKS adalah partai yang menempati pos menteri terbanyak setelah Partai Demokrat, sebanyak 4 menteri. Tentu saja ini berkah sekaligus cobaan. Dari sisi internal, kader PKS harus mampu untuk 'menahan diri' terhadap godaan kuasa yang biasanya mendatangkan harta. Jabatan politik, seharusnya berdampak strategis bagi konstituen PKS secara keseluruhan, bukan lahan pembagian jabatan dan proyek-proyek besar. Secara internal, godaan-godaan 'dunia' ini harus diantispasi oleh kader-kader PKS.

Ketiga, adalah cobaan demokrasi berwujud koalisi. Sebagai partai pendukung pemerintahan, PKS dihadapkan pada dilema dalam menentukan sikap. Di satu sisi, PKS mempunyai idealisme tersendiri berdasarkan platform ideologi yang menjadi dasar gerakan, namun di sisi lain PKS –sebagai mitra koalisi- dihadapkan pada tuntutan untuk mendukung kebijakan pemerintah. Dua hal ini seringkali tidak seiring sejalan. Namun, patut diapresiasi ketika dalam beberapa kasus, PKS konsisten dalam  mempertahankan sikapnya 'berbeda jalan' dengan pemerintah.

Badai Pasti Berlalu?

Dalam bukunya Dari Gerakan ke Negara, Sekjen PKS Anis Matta sudah memberikan 'early warning' terhadap pilihan gerakan tarbiyah –cikal bakal PKS- untuk masuk dan terlibat dalam demokrasi. Dalam buku tersebut, Anis mewanti-wanti kader PKS untuk siap menghadapi era demokrasi dan keterbukaan, di mana 'kebenaran dan kebathilan sama-sama bersaing untuk meraih simpati masyarakat'. Maka di era persaingan politik ini menurut Anis, yang harus dilakukan kader PKS adalah 'membuktikan bahwa yang benar di mata Islam adalah benar juga di depan hukum, dan apa yang salah menurut Islam adalah juga salah menurut hukum yang berlaku'.

Seperti jamaknya ajaran agama, bahwa siapa mampu menghadapi cobaan, maka sesungguhnya Tuhan sedang mengujinya untuk membuat ia tangguh. Tapi, barangsiapa gagal menghadapi cobaan -sesuai kadarnya- maka sesungguhnya ia telah gagal mencapai derajat keimanan. Analogi ini tepat untuk PKS. Pilihannya sederhana; jika sukses menghadapi 'cobaan demokrasi' ini, maka PKS akan semakin kuat dan beranjak menjadi salah satu kekuatan politik utama di Indonesia, sebaliknya jika gagal, maka PKS mengikuti pendahulunya partai-partai Islam yang 'masuk kotak', justru karena demokrasi.

Di atas itu semua, patut diapresiasi pilihan politik PKS untuk 'berani bertarung' dalam Demokrasi. Ketika beberapa gerakan Islam lainnya justru tidak berani berpolemik dalam politik, PKS justru masuk dalam politik praktis. 'Percuma saja berlayar, kalau takut Gelombang' begitu mungkin gubahan yang tepat. Maknanya; 'Buat apa punya cita-cita perubahan, kalau takut menghadapi cobaan demokrasi?'

*) Khairurrizqo adalah mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia dan peneliti budaya politik di Hikaam Institute Jakarta. (vit/vit)

Sumber: detik.com

Rabu, 13 April 2011

Memulai Tradisi Mundur

Fuad Rumi Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI)
Arifinto, anggota DPR dari Fraksi Keadilan Sejahtera akhirnya menyatakan diri mundur sebagai wakil rakyat. Sikap itu diambilnya sebagai sebuah bentuk pertanggungjawaban moral karena sebelumnya ia tertangkap kamera wartawan melihat video porno pada perangkat tablet pribadinya, saat Sidang Paripurna DPR berlangsung hari Jumat 8 April lalu.

Seperti kita ketahui dalam pemberitaan yang segera merebak ketika itu, Arifinto lalu mendapat pemberitaan publik yang gencar.

Arifinto sendiri mengatakan bahwa video porno yang dilihatnya adalah kiriman seseorang melalui alamat emailnya.

Tulisan ini tidak ingin mengulas duduk perkara kejadian itu sendiri, tetapi ingin bertolak dari keputusan mundur Arifinto sebagai anggota DPR atas kejadian tersebut.

Sehubungan dengan "kecelakaan" ini, Arifinto telah menunjukkan sebuah sikap yang baik dan tepat. Arifinto menunjukkan sebuah pertanggungjawaban moral akibat keteledoran yang telah dilakukannya.

Arifinto tidak ingin membiarkan media dan publik berlama-lama menguras energi mengecam dirinya. Ia segera mengambil keputusan ksatria, mundur.

Sesungguhnyalah di balik keputusan itu ada sebuah makna penting yang perlu ditangkap sebagai pesan oleh para wakil rakyat lainnya, dan juga para elite pemimpin negeri ini. Pesan itu adalah tentang kesatriaan untuk mundur dari kedudukan manakala telah melakukan pelanggaran hukum dan etika atau tidak lagi mampu mengemban amanah yang dipikul.

Di negeri kita, mundur dari jabatan sebagai pertanggungjawaban moral adalah sesuatu yang belum pernah terjadi. Jika di negara lain, ada pejabat yang meletakkan jabatan atau bahkan bunuh diri sebagai wujud tanggung jawab moralnya, maka di negeri kita tidak pernah ada. Kata sementara elite yang dalam wilayah tanggung jawab moralnya pernah ada kejadian yang seharusnya membuat ia malu dan mundur, sembari senyum hanya mengatakan ah itu bukan budaya kita.

Karena itulah, momentum mundurnya Arifinto sebagai wakil rakyat, patut kita garisbawahi sebagai sebuah kesadaran baru yang seharusnya juga dimiliki oleh para elite kita, siap mundur jika tidak mampu atau melanggar etika dalam menjalankan amanah, apalagi jika melanggar hukum. Jika dalam pemilukada dan pilpres ada jargon populer siap kalah dan siap menang, maka seharusnya juga ada jargon siap mundur jika tak mampu memanggul amanah.

Mundurnya Arifinto sudah barang tentu setelah melalui proses konsultasi dengan partainya sendiri, PKS. PKS sendiri sebagai partai dengan slogannya yang terkenal, Bersih dan Peduli, mendapatkan ujian besar dengan insiden Arifinto itu. Konsistensinya terhadap jargon tersebut ditagih masyarakat dengan adanya kejadian tersebut.

Akhirnya, jawaban sudah diberikan. Arifinto minta maaf dan menyatakan diri mundur. Itu, sekali lagi, adalah jawaban konsistensi dan kesadaran akan tanggung jawab moral yang ditunggu masyarakat. Harapan selanjutnya ialah agar konsistensi dan tanggung jawab moral itu terus dipegang teguh sebagai sebuah prinsip oleh PKS.

Akhirnya penting digarisbawahi bahwa kejadian itu sebenarnya dan hakikatnya bukan hanya berkenaan dengan Arifinto seorang. Di negeri ini, betapa banyak elite yang sebenarnya telah menginjak-injak hukum dan mengoyak etika, hanya saja tidak "tertangkap kamera". Dalam konteks itulah, pengunduran diri Arifinto diharapkan menjadi sebuah kesadaran baru, dimana para elite pengemban amanah publik negeri ini mau menunjukkan sikap ksatria, mundur jika telah melakukan hal yang tidak pantas atau gagal melaksanakan amanah.

Kesediaan mundur bila berbuat salah adalah sebuah kesadaran akan tanggung jawab yang diemban. Ia juga adalah manifestasi dari rasa malu yang masih dimiliki sebagai bukti masih hidupnya nurani.  

Kesadaran seperti itulah yang kita saksikan, antara lain, pada masyarakat Jepang yang saat-saat sekarang ini membuka mata kita melihat betapa tangguhnya mereka sebagai sebuah bangsa. Betapa seringnya terjadi pejabat publik Jepang, mengundurkan diri dan bahkan bunuh diri, karena merasa malu melanggar kepatutan dan hukum.

Sekarang, di negeri ini, mari kita saksikan, seorang Arifinto telah menunjukkan sebuah teladan tentang seorang terhormat, seorang pejabat publik yang menyadari sebuah ketidakpatutan yang telah dilakukannya, justru demi keterhormatan itu dia mundur. Kita tidak perlu mengurangi rasa hormat pada dirinya, sebab sebaik-baik orang bukanlah karena ia tidak pernah bersalah, tapi ia jujur mengaku salah lalu bersedia memikul akibat dari kesalahannya.

Sesudah ini kita tidak mengharap ada "Arifinto" berikutnya. Tapi bila toh tidak terelakkan, terjadi lagi, maka tidak usahlah menunggu lama-lama, segera mundur demi kehormatan diri dan demi tidak mencemari habitat tempat mengabdi.

http://www.fajar.co.id

Kamis, 07 April 2011

Al-Istikhlaf


Drs. H.Mahfudz Siddiq, M.Si
Setelah membicarakan sifat Islamyang inklusif, sekarang saya ingin mengajak Anda mengelaborasi satu konseppenting lainnya, yaitu al-istikhlaf. Ini berkaitan erat dengan posisi dasaryang Allah letakkan pada manusia dalam eksistensinya di kehidupan dunia. Yaitumenjadi khalifatullah fil-ardh.

Posisi khalifah adalah takdir kepemimpinan yang Allah berikan kepada manusiauntuk mengelola kehidupan di muka bumi ini sesuai dengan ajaran Allah SWT.Untuk itu, Allah meletakkan berbagai potensi dan kemampuan yang dibutuhkansetiap manusia untuk mampu menjalankan kepemimpinannya. Ini yang disebut konsepAt-Taskhir, yang akan saya bicarakan kemudian.

Banyak pihak memahami posisi khalifah sebagai kepemimpinan politik, dalam suatubangunan negara misalnya. Pemahaman ini tidak salah, namun tidak utuh. Padadasarnya posisi kepemimpinan ini melekat pada diri manusia dalam dimensi ruang,waktu dan keadaan apa saja. Posisi dan peran ini bisa dijalankan manusia atasdirinya sendiri, dalam ruang keluarga, masyarakat dan tentu juga negara.

Memang harus diakui, wacana paling dominan adalah posisi khalifah dalam ruangnegara. Dan inilah wacana yang sering memunculkan perdebatan di kalangan umatIslam serta memunculkan kecemasan di kalangan luar umat Islam. Bahkanseringkali tanpa sadar sifat inklusivitas Islam jadi dipertentangkan dengankonsep kekhalifahan.

Saudaraku, tahukah kita kapan seseorang itu bisa menjadi pemimpin dan penguasa(politik)? Yaitu ketika seseorang (atau sekelompok orang) mampu memenangkan ruangkompetisi yang disediakan oleh setiap mekanisme yang disepakati. Dalam hukummanusia, seseorang yang mampu mengendalikan sumberdaya secara maksimal, maka iapaling berpeluang memenangkan kompetisi kepemimpinan. Meski hukum Allahseringkali menunjukkan hal yang berbeda. Allah dengan kekuasaan-Nya yang tanpabatas, bisa menjatuhkan atau mendudukkan kepemimpinan seseorang dengan cara-Nyasendiri. Hukum Allah yang pasti adalah akan menjaga dan meneguhkan kepemimpinanseseorang (sekelompok orang) yang sejalan dengan ajaran-Nya.
Islam sesungguhnya tidak mempersoalkan bentuk mekanisme kompetisinya, namunlebih menekankan pada sifat-sifat kompetisi tersebut. Seorang pemimpin bisasaja hadir melalui mekanisme pemilihan langsung, pemilihan tidak langsung ataubahkan pengangkatan. Tetapi Islam menegaskan tentang syarat-syarat seseorangmenjadi pemimpin, nilai-nilai syura dalam rekrutmen kepemimpinan, dansikap-perilaku menjalankan kepemimpinan.

Saya ingin mengoreksi satu pemahaman salah tentang konsep khalifah. Adasementara kalangan dari umat Islam yang meyakini bahwa konsep kekhalifahan barubisa dijalankan dan ditegakkan ketika kehidupan ini sudah ada dalam bingkaisistem Islam. Sehingga yang terjadi kemudian, mereka akan menjauhkan diri dariruang kompetisi kepemimpinan jika itu berlangsung dalam suatu ruang (negara)yang belum berada dalam bingkai sistem Islam. Akibatnya, muncullah sikapmengharamkan demokrasi, pemilu dan juga pilkada. Memang kalangan ini memilikidasar hujjah-nya sendiri. Namun dampak yang pasti adalah ruang-ruang kompetisikepemimpinan di mana ummat berposisi sebagai obyek kepemimpinan dan kekuasaan,tidak lagi diisi oleh orang-orang yang lebih berhak menjalankan posisi danperan kekhalifahan.

Dalam konteks persoalan inilah saya ingin mengajak Anda bicara tentangIstikhlaf. Pengertian Istikhlafadalah proses menuju eksisnyakepemimpinan yang diinginkan oleh Allah dan Islam. Proses yang dimaksudtentu saja dalam arti luas. Bukan saja pada mekanisme yang dijalankan, tetapijuga pada kondisi prosesual yang dinamis, yang bisa saja dipersepsi belumsepenuhnya sesuai dengan konsep nilai-nilai Islam. Artinya, keterlibatanseorang muslim (kelompok umat) dalam kompetisi kepemimpinan dalam ruang yangbelum sepenuhnya selaras dengan nilai Islam adalah bagian dari upaya untukmewujudkan ruang kehidupan yang Islami. Menjauhkannya berarti memperlambatupaya tersebut.

Saya ingin mengajak Anda menyimak firman Allah berikut ini:
”Apakahmereka tidak memperhatikan berapa banyaknya penguasa-penguasa yang telah Kamibinasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kekuasaan mereka di mukabumi, yaitu kekuasaan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. Dan Kamicurahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalirdi bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, danKami ciptakan sesudah mereka penguasa yang lain..” (Al-An’aam: 6).
Ayat ini menjelaskan suatu kondisidi mana muncul satu ruang kehidupan yang para penguasanya menjauhkan diri darinilai-nilai kebenaran, dan mengisinya dengan beragam kejahatan. Lalu sesuaihukum kekuasaan Allah, para penguasa itu dijatuhkan untuk kemudian Allahberikan ruang kompetisi bagi munculnya penguasa-penguasa baru. Pada ayat iniAllah tidak memastikan sosok penguasa baru yang muncul. Pesan penting ayat iniadalah sirkulasi kepemimpinan dan kekuasaan itu pasti akan terjadi. Ruangkompetisi akan memunculkan sosok kepemimpinan baru dari mereka-mereka yangterlibat langsung dalam proses tersebut. Inilah makna istikhlaf, proses menuju kepemimpinandan kekuasaan.

Saudaraku, selama 63 tahun menjadi negara merdeka, di negeri ini telahberlangsung dari pemilu ke pemilu, dari pilakada ke pilkada, sampai daripilkades ke pilkades. Ini adalah mekanisme kompetisi ruang kepemimpinan yangtersedia, meski nilai dan prosedurnya terus dinamis mengalami berbagaiperubahan ke arah perbaikan. Pertanyaan pentingnya, sudahkah kompetisi inimemunculkan sosok pemimpin yang berjatidiri khalifatullah fil-ardh? Atausudahkah ummat ini benar-benar terlibat (sebagai suatu entitas politik) dalamproses kompetisi ini?
Jawaban atas pertanyaan ini memang tidak mudah, bahkan kompleks. Namun ada satuguidance yang Allah letakkan atas kita. Bahkan ini merupakan janji Allah ataskita. Mari perhatikan firman Allah berikut ini:
”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akanmenjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikanorang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagimereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akanmengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi amansentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapundengan Aku..” (An-Nuur: 55).
Ayat di atas membimbing kita akan beberapa hal mendasar.

Pertama, sirkulasi kepemimpinan dan kekuasaan adalah bagian dariproyek Allah untuk meneguhkan posisi manusia sebagai khalifatullah fil-ardh.Allah terlibat dalam setiap prosesnya, baik itu mencabut kekuasaan ataumeneguhkan kekuasaan manusia.

Kedua, maka seorang muslim harus terlibat sepenuhnya dalam proseskompetisi kepemimpinan dan kekuasaan, agar peluang itu tidak jatuh ke tanganorang-orang yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan.

Ketiga, secara tegas Allah menetapkan syarat utama calon pemimpinadalah integritas (iman) dan kapabilitas (amal shaleh).

Keempat, bahwa kepemimpinan adalah salah satu pilar mewujudkansistem kehidupan yang benar dan baik.

Kelima, kepemimpinan dan sistem kehidupan yang benar dan baik akanmampu mewujudkan perubahan kondisi kehidupan yang diinginkan manusia (secarakeseluruhan). Karena kebaikan Islam itu akan mendatangkan manfaat bagi seluruhmanusia dan alam semesta.

Terakhir, tujuan akhir kepemimpinan dan kekuasaan adalah menjagaspirit Tauhid, sehingga manusia bisa menghadap Al-Khaliq dengan selamat di harikemudian kelak.

Nah saudaraku, jika demikian halnya, bagaimana mungkin kita bisa segeramenikmati kehidupan yang digambarkan sebagai hayatun-thayyibah atau baldatunthayyibatun wa rabbun ghafuur, jika masih ada di antara ummat ini yang terusberdebat atau menolak terlibat dalam proses istikhlaf?

Rabu, 30 Maret 2011

Kesungguhan dan Semangat yang Tinggi

Kesungguhan itu lawan dari main-main, yaitu sungguh-sungguhdalam suatu urusan dan memberikan perhatian yang lebih besar dari biasanyaserta bersegera ingin menunaikannya.

Untuk menuju ke sana para aktivis dakwah dituntut memilikisemangat yang tinggi, memberikan segala kemampuannya, dan tidak boleh ragu-raguataupun berhenti di tengah jalan, atau bermalas-malasan di tengah perjalanan.

Biasanya, ketika meniti perjalanan yang panjang/se­mangatpara aktivis dakwah melemah, tekad mereka mengendur, dan langkah merekamelamban. Pada saat itulah amal islami (pergerakan Islam) menjadi lemah danberkurang  pengikutnya.

Sebagian mereka juga merasakan nikmatnya beristirahat danrela dengan hal itu. Mereka merasa berat dengan beban dakwah dan tidakmenyukainya, memperbanyak senda gurau dan tawa canda, serta bersenang-senangdengan pertemuan yang sepi dari semangat dan kesungguhan.

Mereka juga merasa nyaman dengan tidak ikut serta dalamkafilah jihad. Mereka tidur lelap dan rela dengan hanya memberi kontribusi yangsedikit. Mereka menyibukkan diri dengan urusan yang tidak penting danmelalaikan kewajiban yang sesungguhnya, serta lupa bahwa kewajiban itu lebihbanyak daripada waktu yang tersedia. Mereka rela dengan kontribusi minimal yangdiberikan kepada dakwahnya, dan sudah menganggapnya sebagai kontribusi yangbesar.

Karena itu, harus selalu dipompakan semangat yang tinggi dankesungguhan yang benar agar kita mampu menunaikan amanah dan tanggung jawabkita serta sampai pada tujuan. al-Qur'an telah memuji sekelompok manusia yangberiman dengan iman yang sesungguhnya. Mereka menyingsingkan lengan baju, danbersungguh-sungguh mencari keridhaan dari Allah. Allah Ta'ala berfirman,

“Mereka itu bersegerauntuk melakukan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segeramemperolehnya.” (aI-Mu'minun [23] :61)

Yang harus diingat, ketika berbicara tentang semangat yangtinggi dan kesungguhan adalah kontribusi dan kesungguhan itu berbanding lurusdengan kedekatan seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam hadits qudsiDia berfirman,

“Barangsiapa yangmendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Barangsiapayang men­dekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan,apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanyadengan berlari.” (HR. Muslim, dalamkitab at-Taubah, Nomor 2675).

Para pemalas tidak sama dengan orang yang sungguh-sungguhdan memiliki semangat tinggi.

"Tidaklah samaantara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzurdengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allahmelebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orangyang duduk satu derajat..." (an-Nisa'[4]: 95)

Orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan kesungguhanyang tulus, merekalah orang-orang yang berhak mengemban dakwah ini danmenyampaikannya kepada manusia. Karena itulah, pengemban dakwah yangsesungguhnya adalah mereka yang menghabiskan umurnya, mengorbankan hartanya,dan memberikan waktunya untuk kemenangan dakwah.

Asy-Syahid al-Banna mengatakan, “Adalah sebuah kesalahan jika ada yang menyangka bahwa IkhwanulMuslimin adalah para da'i yang menyeru manusia kepada kemalasan danketerlenaan. Ikhwan selalu menyerukan di setiap kesempatan bahwa seorang Muslimharus menjadi pelopor dalam segala sesuatu. Ikhwan tidak rela hidup tanpaqiyadah, tanpa amal, dan tanpa keunggulan dalam segala hal, baik dalam ilmu,kekuatan, kesehatan, maupun finansial. Sebab, keterbelakangan dalam suatu sisidari berbagai sisi yang ada itu akan membahayakan fikrah kami dan bertentangandengan ajaran Islam.”

Beliau juga mengatakan, “Sedikitsekali orang yang tahu ketika salah seorang da'i Ikhwan keluar dari tempatkerjanya pada hari Kamis sore, lalu pada waktu isya sudah berceramah dial-Manya. Di hari Jumat ia menyampaikan khotbah di Manfaluth, Jum'at sorenyaberceramah di Asiyuth, dan setelah isya pada hari itu juga sudah berdakwah diSauhaj, baru kemudian pulang. Pagi-pagi buta di keesokan harinya, ia sudahberada di tempat kerjanya di Kairo, bahkan mendahului karyawan lainnya.”


Surat Terbuka untukPara Pemalas

Pemalas adalah orang yang tidak beruntung. Ia menghalangidirinya dari pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak. la terbuai dengankenikmatan sementara yang dirasakan dari duduk-duduk dan istirahatnya. la lebihmengutamakan santai daripada menyiapkan diri untuk kehidupannya yang tersisa.

"Sekali-kalijanganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia danmeninggalkan (kehidupan) akhirat." (al-Qiyamah [75]: 20-21)

Dia rela dengan kondisi dirinya. Rela dengan ketertinggalandan kemalasannya. Seharusnya, dia bisa bangkit lebih tinggi. Sesungguhnya, kitatidak membutuhkan para pemalas. Kita hanya bisa menasihati dan mendoakanmereka. Kita ajak mereka untuk berpikir ulang. Mari kita lihat teman-teman dansaudara-saudara yang telah meninggalkan kita. Barangkali, kita bisamembangkitkan dan menguatkan kembali semangat mereka.

Kita tidak mungkin bisa mengingkari kematian atauorang-orang mati yang setiap hari kita antarkan ke liang lahat. Tidak dapatkita pungkiri bahwa kita kehilangan mereka untuk selamanya. Tidak dapat kitapungkiri juga bahwa di antara mereka ada yang masih muda dan ada pula yangsudah tua. Di antara mereka ada bayi-bayi yang tak berdosa dan wanita-wanitalemah. Di antara mereka ada yang mati dalam keadaan sehat dan ada pula yangmati karena sakit.

Mati adalah sebuah keniscayaan, mendatangi orang yang sudahtiba saatnya. Tidak ada yang mengetahui. Bisa jadi, kematian akan merenggutkita hari ini dan tidak bisa ditunda sampai hari esok. Pada saat itulah, tidakberguna lagi penyesalan.

"(Demikianlahkeadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorangdari mereka, dia berkata. 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar akuberbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.'Sekali-kali tidak.Sesungguhnya, itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapanmereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (al-Mu'minun [23]: 99-100)

“Dan belanjakanlahsebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematiankepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, Ya Tuhanku, mengapaEngkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yangmenyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh.”(al-Munafiqun [63]: 10)

Maka, berbuatlah... dan berbuatlah....Bersungguh-sungguhlah... dan bersungguh-sungguhlah..., sebelum kedatangan suatuhari yang tidak berguna lagi bagi seseorang kecuali apa yang sudah ia perbuat.

Semangat yang tinggi dan kesungguhan dalam sebuah aktivitasdapat memengaruhi derajat surga di antara orang-orang yang beriman.

"Tidaklah samaantara Mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzurdengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka danjiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanyaatas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allahmenjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yangberjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar." (an-Nisa' [4]: 95)

Jangan seperti Mereka

1. Seperti yangdifirmankan oleh Allah,
"Dan bacakanlahkepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami(pengetahuan tentang isi al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayatitu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah diatermasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kamitinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada duniadan menuruti hawa nafsunya yang rendah. Maka, perumpamaannya seperti anjing.Jika kamu menghalaunya, diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, diamengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yangmendustakan ayat-ayat Kami. Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah ituagar mereka berpikir." (al-A'raf[7]: 175-176)

2. Orang yangkepergiannya tidak disukai oleh Allah, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
"Mereka relaberada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang...." (at-Taubah [9]: 87)
Sebabnya adalah hilangnya semangat dan tidak pergi berjihad.

"Dan jika merekamau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu,tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkankeinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersamaorang-orang yang tinggal (tidak pergi berperang) itu.” (at-Taubah [9]: 46)

3. Orang yangmencintai dunia sehingga mengalahkan akhirat.
"Hai orang-orangyang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, 'Berangkatlah(untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal ditempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan diakhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)di akhirat hanyalah sedikit" (at-Taubah[9]: 38)

Jadilah SepertiOrang-orang yang Menepati Janji dan Bersegera Meraih Kebaikan

Seperti yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala,
“Laki-laki yang tidakdilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingatiAllah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takutkepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadigoncang." (an-Nur [24]: 37)

"Di antaraorang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah merekajanjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antarame­reka ada (pula)yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah(janjinya)." (al-Ahzab [33]:23)

"Mereka itubersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yangsegera memperolehnya." (al-Mu'minun[23]: 61)

Tanda-tanda Kesungguhandan Semangat Tinggi

- Bersegera menunaikan shalat, "Bangkitlah untuk shalatketika kalian mendengar panggilan shalat, apa pun keadaan kalian."
- Berkomitmen untuk menghadiri semua pertemuan dan disiplindi dalamnya.
- Merespons dengan cepat instruksi-instruksi mendadak yangdiberikan.
- Bersegera menginfakkan harta untuk kepentingan dakwah.
- Tidak berjalan bersama para pemalas dan orang-orang yangsuka meninggalkan dakwah.
- Menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untukkepentingan umat dan dakwah.

Sumber: Memperbarui Komitmen Dakwah (Muhammad Abduh)

Kamis, 24 Maret 2011

At-Taskhir


Drs. H. Mahfudz Siddiq, M.Si.
Salah satu tujuan dari kepemimpinandan kekuasaan adalah isti’mar al-ardh,yaitu memakmurkan kehidupan umat manusia.Kepemimpinan yang sukses terletak pada kemampuannya untuk mendayagunakanberbagai sumber daya kekuatan itu. Pernahkah kita menyadari bahwa Nabi Sulaimanas bahkan bahkan memiliki kemampuan untuk mendayagunakan potensi kekuatanbangsa Jin dan hewan untuk mewujudkan tujuan kekuasaannya sebagai raja.

Saya bukan ingin mengajak Anda berfikir agar salah satu syarat calon Presidenadalah mampu menundukkan sumber daya Jin. Tapi ingin menyajikan satu perspektifprinsipil bahwa kepemimpinan dan kekuasaan harus mampu melihat berbagai potensisumber daya yang ada atau diadakan sebagai energi positif yang mesti dikelola.Bukankah Rasulullah saw pernah memberi isyarat bahwa satu waktu agama Islam iniakan ditolong oleh rajulun fajir? yaituorang-orang yang jauh dari standarkeimanan dan keshalehan, namun memiliki kekuatan yang bisa didayagunakan.

Salah satu kesalahan berfikir dan bersikap di antara kaum muslimin adalahketika menakar dan menseleksi unsur-unsur kekuatan yang layak dilibatkan dalamproses istikhlaf menurut ukuran keimanan dan keshalehan. Mereka yang di luaritu lalu diposisikan sebagai lawan yang harus dicurigai atau bahkan dimusuhi.Ini pula yang telah menciptakan polarisasi klasik antara kekuatan politik Islamdan kekuatan politik non-Islam, dengan beragam label ideologi dan aliranpolitiknya.

Masih menurut mereka, adalah suatu keanehan dan penyimpangan manakala adakekuatan politik Islam bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan politik non-Islam.Ditambah lagi satu obsesi bahwa kekuatan-kekuatan politik Islam harus bersatudi bawah satu bendera saja, untuk kemudian berhadapan vis a vis denganselainnya. Sejumlah dalil dan tafsir sejarah pun disertakan untuk melanggengkanpaham ini.

Saudaraku, perlu kita pahami bahwa kepemimpinan dan kekuasaan adalah wilayah al-mashlahahal-‘ammah, atau domain kepentingan umum. Kepemimpinan menurut Islamadalah untuk kemashlahatan semua manusia yang bernaung di dalam ruang kekuasaanitu, siapapun mereka. Bahkan juga untuk kemashlahatan semua makhluk selainmanusia. Coba lihat, bukankah syariat Islam juga mengatur hak-hak bangsa Jinyang tidak boleh kita zhalimi. Misalnya kita dianjurkan Rasulullah untuk tidakmemakan tulang, karena itu aset pangan bangsa Jin. Sementara sekarangberkembang menu makanan berduri atau bertulang lunak, sehingga ludes semua hakbangsa Jin itu dimangsa manusia.

Saya minta maaf jika mengambil contoh ektrem dan paradoks, dikarenakan iniadalah perkara penting. Yaitu menyangkut cara pandang yang membentuk perilakukita dalam kerangka bermasyarakat dan bernegara. Kepemimpinan dan kekuasaanyang bercirikan pendayagunaan berbagai sumber daya kekuatan untuk pencapaiantujuan isti’mar al-ardh ini yang disebut sebagai At-Taskhir. Konsep ini mengacukepada firman Allah:

”Tidakkahkamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu segalaapa yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi, dan menyempurnakanuntukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantahtentang Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberipenerangan.” (Luqman: 20).

Ketika Allah menetapkan Takrim (pemuliaan) posisi manusia sebagai Khalifatullah fil-Ardh, makaAllah ikuti dengan Taskhir. yaitu penyediaan berbagai sumber daya yangdibutuhkan untuk menjalankan tugas kepemimpinan. Secara tabiat, berbagaisumber daya itu bersifat tunduk kepada kekuasaan untuk dikelola menjadi energipositif. Dan secara tabiat pula, kepemimpinan manusia mampu menundukkan mereka.

Dari konsep dan prinsip Taskhir, maka pahamlah kita praktekkepemimpinan dan kekuasaan yang dijalankan oleh Rasulullah saw. Bagaimanabeliau mendayagunakan posisi terhormat nasabnya untuk bernegosiasi dengan a-immatul-kufr (pemimpin-pemimpin kekufuran) Makkah. Bagaimana beliau membangunkomunikasi dan aliansi dengan Raja Habasyah untuk keperluan suaka politiksebagian sahabatnya. Bagaimana beliau gunakan tangan-tangan sebagian tokohmusyrikin Makkah untuk mencabut embargo dan blokade terhadap komunitas kaummuslimin yang sudah berlangsung selama tiga tahun. Bagaimana beliau menyewasecara profesional Abdullah Uraiqith seorang musyrik sebagai pemandu jalan saathijrah ke Madinah.
Juga bagaimana beliau merekrut tokoh-tokoh simpul dari kelompok-kelompok besarmasyarakat Madinah, dan memuliakan posisi mereka. Bagaimana beliau membiarkankeberadaan tokoh-tokoh munafik Madinah, namun membatasi ruang-geraknya.Bagaimana beliau mengakomodir kepentingan kelompok-kelompok Yahudi dalam PiagamMadinah, dan mengikat mereka dengan klausul hukum yang tegas. Bagaimana beliaumenolak kehadiran Abu Jundul dan pengikutnya untuk masuk Madinah, dan bersikapdiam atas berbagai operasi yang mereka lakukan terhadap kafilah-kafilah dagangQuraisy Makkah.

Juga bagaimana Rasulullah membuka luas arus perdagangan antar negara diMadinah. Bagaimana beliau menugaskan beberapa sahabat untuk mempelajari bahasadan budaya Yahudi dan Nasrani. Bagaimana beliau mengadopsi banyak tradisi danteknologi negara atau bangsa lain untuk kemashlahatan ummat. Termasuk dalam halRasulullah saw menikahi Shafiyyah, seorang putri tokoh sentral Yahudi yangditaklukkan dalam peperangan.

Ikhwah fillah, konsep Taskhir tentu saja berdimensi sangatluas. Pastinya ia melekat pada konsep kepemimpinan dan kekuasaan. Ia menyangkutpenundukkan dan pendayagunaan berbagai sumber daya alam untuk kemakmuran.Menyangkut penundukkan dan pendayagunaan sumber daya manusia dengan anekakeragamannya untuk mewujudkan masyarakat hadhari atau berperadaban. Jugamenyangkut penundukkan dan pendayagunakan berbagai potensi kekuatan buruk ataudestruktif menjadi unsur kekuatan yang positif atau minimal netral.

Memimpin dunia berarti meletakkan semua komponennya di bawah kendali kita.Seorang pemimpin akan memandang semua yang ada di sekelilingnya sebagai sumberdaya potensial yang harus dikelola dan ditundukkan. Siapapun, apapun danbagaimanapun adanya. Seorang pemimpin tidak akan mudah melakukan fragmentasiatau pengkotak-kotakan, lalu melakukan sikap baro’ah atau garis demarkasiterhadap kotak-kotak yang berbeda dengan dirinya. Secara aqidah dan ibadahmemang harus dan mudah untuk membeda-bedakan manusia. Namun sekali lagi,kepemimpinan dan kekuasaan adalah wilayah al-mashlahah al-’ammah.

Nah saudaraku, mari kita lihat kembali Indonesia negeri kita yang besar ini.Semangat kita pastilah ingin memimpin negeri ini. Mari lihat dengan cermat;begitu beragamnya penduduk negeri ini dari suku, bahasa, agama, budaya dananeka ikatan primordial lainnya. Bahkan keberagaman itu terlihat jelas di umatIslam sebagai komponen mayoritas penduduknya.

Perbedaan aliran fiqh, ormas ataukelompok, tingkat pemahaman dan komitmen terhadap syari’at, hingga perbedaancara memperjuangkan aspirasinya. Indonesia begitu melimpah ruah sumber dayaalam dan ekonominya. Namun lihatlah sebagian besar didominasi oleh aktor-aktorbisnis non-muslim, bahkan asing. Lihat juga tentara sebagai garda depanpertahanan negara.

Untuk waktu lama mereka didoktrinbahwa Islam adalah ancaman terhadap (kekuasaan) negara. Lalu lihat juga begitubanyaknya para pegiat sosial, budaya, hukum dan politik yang ingin mendorongdemokratisasi di berbagai bidang, namun memiliki referensi ideologi anekawarna.

Kenyataan lainnya, bangsa ini makinterpuruk dalam lubang kemiskinan. Menurunnya daya beli masyarakat, meningkatnyaangka pengangguran, tingkat inflasi yang makin membumbung, angka putus sekolahmasih tinggi, kriminalitas masih merajalela, korupsi tak pernah berhenti,budaya bebas dan semau gue jadi tren generasi muda, patriotisme dan semangatkebangsaan makin tipis, dan mengagungkan budaya barat jadi simbol kemajuan.

Negeri ini butuh kepemimpinan yang baik. Barisan dakwah memiliki modal palingpokok untuk memimpin. Yaitu manusia-manusia yang sadar akan posisinya sebagaikhalifatullah dan sadar akan statusnya sebagai ‘abdullah (hamba Allah) yangharus beriman dan beramal shaleh. Istikhlaf (proses menuju kepemimpinan) tidakcukup hanya dengan seruan atau teriakan. Tapi juga pada sejauh mana kita mampumengkapitalisasi berbagai sumber daya kekuatan untuk dihimpun menjadi energipositif untuk tujuan mulia. Di sinilah sifat inklusif Islam memberi jalan bagitathbiq ru’yah at-taskhir, atau implementasi pandangan taskhir sebagai syaratmulusnya proses istikhlaf. Wallahu a’laambish-showaab.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More